Sabtu, 13 Maret 2021

AKU DAN CADARKU

Bismillah...

Tahun 2010 adalah pertama kali aku dekat (secara lokasi) dengan 'komunitas bercadar' dan 'bercelana cingkrang', 'afwan ini istilah teman-teman kantorku saat itu. Qadarullah saat itu kantorku dipindah dari lingkungan perkantoran ke tempat yang dekat Masjid Sunnah di kotaku (ehmm...saat itu masjid ini hanya terbuat dari bambu dan jerami, maa syaaAllah sekarang sudah bagus dan ada sekolah dasarnya juga). Tidak sedikit di antara teman-temanku yang beranggapan miring terhadap mereka, bahkan ada yang menganggap mereka adalah kelompok teroris. Aku? Tidak, alhamdulillah, bahkan terkadang aku tidak segan-segan membela mereka di hadapan teman-temanku, hal ini aku lakukan karena aku selalu menghormati siapapun dengan pilihan mereka, termasuk kepada 'komunitas' tersebut. Inilah pemikiranku saat itu, terlepas tentang kebenaran tentang cadar bagiku, karena saat itu aku masih awam tentang ini. Dan maa syaaAllah, Allah justru mendekatkanku kepada mereka dengan cara-Nya.
Berawal dari perdagangan atau jual beli (salah satu hobiku adalah jual beli barang, banyak belinya kali ya : D), aku mulai mengenal mereka satu per satu. Yang pada akhirnya membuatku merubah penampilan dengan pakaian yang longgar dan jilbab panjang. Aku sudah ikut kajiannya? belum, qadarullah. Bukan karena tidak ingin, tapi merasa 'sok sibuk' saat itu. Subhanallah.
Tahun 2016, Allah menggerakkan hatiku dengan mulai mengenal kajian sunnah bersama putriku (yang justru terlebih dahulu mengenal kajian salaf di masjid itu), yang sampai pada akhirnya hatiku mulai tertarik dengan cadar. Awalnya aku memakai masker kalau ke luar rumah, masih belum PD kalau bercadar. Memakai jilbab yang menutup dada saat ngantor aja sudah ada yang bilang kayak 'mlijo' (tukang jual sayur), apalagi jika bercadar, entah apa yang akan mereka katakan kepadaku nanti, demikian anggapanku saat itu.
Kurang lebih sekitar tahun 2017, akupun mulai menggunakan cadar (masih buka tutup juga sih), kalau ngantor aku masih menggunakan masker. Tentu berbeda ya saat itu dengan sekarang, kalau saat itu, jika ada yang menggunakan masker tidak pada 'tempatnya' saja sudah jadi bahan gunjingan dan olokan (sekarang? bisa kita lihat, semuanya bermasker, maa syaaAllah). Bahkan, aku pernah dipanggil bapak Kepala Kantorku untuk berdialog masalah pakaianku saat itu dan perilakuku yang tidak mau bersalaman dengan ikhwan. Dan Alhamdulillah, Allah mudahkan aku untuk menjelaskan semuanya kepada beliau dan juga karena memang tidak ada aturan yang melarang, jadi beliau tidak bisa melarangku untuk berpakaian syar'i ketika bekerja.
Oh iya, hal pertama yang aku rasakan ketika pertama kali bercadar itu adalah...adem..nyaman..seperti merasa terlindungi. Dan aku ingat betul, pertama kali aku menggunakan cadar itu saat ziarah ke ibuku ke luar kota. Dan aku makin cinta dengan cadarku.
Tahun 2019, Allah mudahkan aku lagi untuk memutuskan bercadar full ketika ke luar rumah, termasuk ketika bekerja. Tanggapan keluarga? Alhamdulillah positif karena di dalam keluarga besarku, aku ini dikenal sebagai 'orang yang kuat memegang prinsip' (baca : keras kepala : D), maa syaaAllah tabarakallah, jadi mereka beranggapan bahwa jika aku melakukan sesuatu pastilah aku mempunyai alasan untuk itu.
Di lingkungan kantor? beraneka macam tanggapannya, ada yang menggunjing, namun ada pula yang membelaku sebagaimana yang pernah aku lakukan sebelumnya. Salah satu yang membelaku adalah atasanku (atasanku ini masih baru pindah ke tempat kami, seorang ibu yang enerjik namun belum mengenal sunnah, maa syaaAllah baarakallahu fiihaa, semoga Allah memberikan hidayah kepadanya). Saat itu aku bilang ke beliau, bahwa aku lebih nyaman kalau memakai cadar, bukan masker seperti ini, dan maa syaaAllah beliau menjawab begini, "Kalau memang sampeyan (bahasa Jawa : artinya kamu) lebih nyaman pake cadar, kenapa nggak pake cadar aja?", Maa syaaAllah...aku cukup tercengang beberapa saat dengan jawaban beliau saat itu karena ini jawaban yang cukup langka di lingkungan perkantoran.
Pernah suatu ketika, aku ditugaskan menghadiri rapat koordinasi yang qadarullah dihadiri oleh para pejabat pucuk pimpinan di Kabupaten kami. Dan setelah rapat selesai, seorang pejabat kepegawaian memanggilku, deg, ada apa ya, tidak biasanya ada pejabat tinggi yang memanggilku (karena aku hanya seorang staf biasa). "Eh, begini, mbak Eka. Kami dari kepegawaian tidak melarang kalau ada pegawai yang berniqob, tapi tolong seragamnya juga menyesuaikan, atasannya supaya dipanjangkan supaya terlihat seragamnya, tidak tertutup dengan jilbabnya (inilah salah satu hal yang membuatku termotivasi untuk bisa menjahit pakaianku sendiri)," beliau mengatakan ini sambil memelukku (jangan bayangkan beliau seorang lelaki ya : D, beliau perempuan, gaess). Maa syaaAllah baarakallahu fiihaa, Alhamdulillah, tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Selama perjalanan kembali ke kantor, air mataku tak mampu kubendung, aku menangis atas semua nikmat dari
Allah sementara diri ini masih berlumuran dosa. Hal inilah yang menjadi salah satu penyemangatku dalam menjalankan perintah Allah untuk menutup wajah di depan ajnabi.
Lalu bagaimana tanggapanku ter gunjingan atas cadarku? selama aku mempunyai hujjah atas suatu amalan termasuk tentang bercadar, insyaaAllah, aku akan tetap tenang, sabar, dan tetap mengamalkannya sesuai Sunnah semampuku, maa syaaAllah tabarakallahu, semoga Allah mudahkan aku untuk istiqomah. Pernah juga ada wacana larangan bercadar di lingkungan kantor pemerintahan (seorang pejabat yang menyampaikannya kepadaku), dan aku katakan kepada beliau saat itu, kalau memang akan ada larangan seperti itu, insyaa Allah aku akan mengundurkan diri (semoga Allah memudahkan urusanku ini). Bahkan, jika saat itu, aku dipanggil lagi oleh Kepala Kantorku, InsyaaAllah aku akan tetap pada pendirianku. Maa syaaAllah...
Demikian sekelumit cerita tentang aku dan cadarku. Semoga Allah senantiasa memudahkan aku dan akhawaati yang bercadar untuk tetap Istiqomah di jalan yang hak ini dan semoga yang kita lakukan ini menjadi penghapus dosa-dosa kita dan Allah meridhoinya ...aamiin..
Baarakallahu fiikum...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar